Gula

Sejak masuk rumah sakit, saya tidak makan gula berlebihan lagi. Karena saat dirawat, ketahuan kadar gula darah saya sangat tinggi. Sebelumnya memang keterlaluan sih. Konsumsi gula sangat berlebihan. Sangat ya sangat. Makan nasi putih panas sehari bisa 2-3 kali, minum teh botol dan sejenisnya 2-3 botol, minuman kalengan minum setiap hari, dan makanan/minuman lain yang mengandung gula sangat banyak.

Enak rasanya. Waktu itu sih begitu rasanya. Enak.

Sekarang, saya hanya punya 2 pilihan. Bolak-balik masuk ke rumah sakit di 5 - 10 tahun ke depan dan akhirnya mati dalam keadaan miskin. Atau hidup sedikit lebih panjang dan bisa hidup sedikit lebih panjang.

Saya memilih yang kedua.

Memulai Kebiasaan Baru

Sebenarnya salah satu penyebab saya punya kebiasaan begitu ya bentukan dari kecil. Di rumah, sejak dulu selalu makan makanan yang gurih dan atau penuh gula. Sehingga, sampai tua pun selera konsumsi ya yang begitu, yang gurih dan yang manis.

Bagian terberat adalah merubah kebiasaan tersebut. Membiasakan minum kopi yang tidak manis. Kebiasaan tidak makan nasi putih. Kebiasaan tidak minum teh botol. Dan seterusnya.

Sebenarnya untuk memulai tidak terlalu berat, karena saya berangkat dengan membawa sebuah kesadaran: saya ingin hidup lebih panjang.

Jadi ingat ketika pertama ke super market paska keluar rumah sakit, saya kaget. Soalnya cemilan yang saya butuhkan sebagai pengganti rokok saya juga berhenti merokok pada saat yang sama yang biasa saya makan, saya periksa kandungannya.

Gula, gula, gula.

Isi rak-rak besar di Hypermart adalah makanan yang mengandung banyak gula.

Pantesan rumah sakit selalu penuh dan industri farmasi (termasuk dokter yang menolak disebut kriminal) makin kaya. Makanan yang dijual bebas kebanyakan adalah makanan “tidak sehat”. They take us to our graves faster than ever, setelah sebelumnya bolak-balik masuk rumah sakit dulu dan mati dalam keadaan bangkrut.

Setan banget. Fuck you.

Dari situ saya merasa keputusan untuk merubah gaya makan adalah benar. Dan dari situ saya benar-benar tidak makan makanan berkadar gula tinggi (kecuali miras, sesekali).

Perubahan

Setelah 2 bulanan menjalankan kebiasaan baru, tampaknya mulai membuahkan perubahan. Hari Kamis lalu, (seorang teman)[https://twitter.com/rikigede] membawa martabak manis dan martabak telor ke kantor. Martabak Bandung yang di Fatmawati itu. Yang sudah coba, pasti setuju rasanya enak. Saya makan beberapa potong martabak telor. Setiap mengambil potongan baru, mata saya selalu nyangkut di martabak manis. Nantang gitu, minta diambil dan dimakan. Setelah selesai makan, akhirnya saya ga mau nahan lagi. Fuck lah, saya akan makan martabak manis sepotong.

GUE COMOT SEPOTONG MARTABAK MANIS. MAU APA LO BANGSAT!

Gigitan pertama masuk ke mulut, rasanya enaaaaaaakkkkk banget. Damn, 2 bulan ngga ngerasa yang manis begitu. Gigitan kedua jadi biasa, ketiga makin biasa, keempat dan seterusnya jadi ga enak.

Rasanya kemanisan! Huekkkk...

Ya itu. Karena kebiasaan ngga makan gula, maka martabak manis yang gulanya banyak banget itu rasanya kemanisan.

This is a good sign. Karena kalau sudah benar-benar tidak suka maka mengkonsumsi makanan gula rendah jadi lebih mudah.

What Next

All in all, saya bangga karena bisa merubah kebiasaan. Some people choose to die faster karena diabetic diet is not cool. Apalagi buat rocker (pppffffttttt...). Menyenangkan rasanya bisa menantang kebiasaan rocker.

Meski, agak terlambat karena saya sudah keburu kena penyakit. Tapi saya sudah mulai...

...Dan tidak akan berakhir.

BYE! :)

Continue Reading →